Cerita Wayan Edi, relawan dari Mataram saat Gempa Lombok


Cerita Wayan Edi, relawan dari Mataram saat Gempa Lombok

Gempa barmaknetudo 7,0 SR yang mengguncang Pulau Lombok pada 5 Agustus 2018 lalu menyisakan pilu bagi kita semua. Di saat para korban berusaha untuk bertahan hidup dan menyelamatkan diri dari gempa, Pak Edi justru bangkit dan ikut serta membantu para korban gempa.

LIHAT LEBIH LANJUT

5 Agustus 2018 menjelang malam, langit cerah berganti mendung, bukan angin sejuk yang bertiup namun hawa panas datang menerpa memaksa keringat keluar dari kelenjarnya. Suasana itu tidak seperti biasanya, hewan-hewan keluar berlarian meninggalkan sarangnya, mengeluarkan suara-suara seperti isyarat ada yang tidak beres dengan sore itu. I Wayan Edi Wira Saputra selesai mandi, ia hendak menyaksikan acara televisi Moto GP yang digelar di Sirkuit Automotodrom Brno, Ceko yang akan segera dimulai. Bukan acara Moto GP favoritnya yang ia saksikan melainkan peristiwa mengerikan yang tidak akan dilupakan oleh Pak Edi.

 

Pukul 18.45 WITA Gempa Barmaknetudo 7,0 mengguncang Pulau Lombok yang berpusat di daerah Lombok Utara dan Lombok Timur. Pak Edi berdiri dari duduknya, segera ia menarik ayah, ibu, beserta adiknya berlari keluar rumah mencari tempat yang aman. Saat itu listrik tiba-tiba padam, di area yang lapang depan rumahnya juga berkumpul tetangga-tetangga beliau dengan wajah panik dan ketakutan. Terdengar jeritan orang membaca do’a untuk meminta kepada Tuhan menghentikan gempa yang mengoyak-ngoyak tempat tinggal mereka.  Suara kentungan pertanda bahaya, piring berjatuhan, dan suara benda-benda yang saling beradu karena goncanan dahsyat itu menjadikan susasana semakin pilu. “Hidup... Hidup... Hidup...” tak henti-hentinya Pak Edi berucap, kata-kata itu adalah do’a bagi seorang yang beragama Hindu untuk meminta keselamatan dari sang pencipta.  Penganut agama Hindu percaya bahwa gempa terjadi ketika seekor naga yang berjalan di bawah tanah, sehingga terasa goncangan yang besar di atasnya. Beberapa saat kemudian goncangan berhenti.

 

Pukul 20.30 WITA Pak Edi memberanikan diri melihat keadaan rumahnya. Di dalam rumahnya yang gelap gulita ia menyalakan senter untuk menerangi langkahnya menyusuri tiap sudut rumah. Di sana terlihat berserakan barang-barang, tembok-tembok yang retak, dan bergesernya Sanggah tempat sembahyang bagi keluarga Pak Edi. Sanggah biasanya terbuat dari pahatan batu cadas atau campuran pasir dan semen yang kuat, dibangun dan dibentuk sesuai aturan di agama Hindu. Bukan hanya milik Pak Edi yang rusak, namun Sanggah milik tetangga Pak Edi pun runtuh dan berhamburan. Kecemasan malam itu belum berakhir, isu adanya tsunami berhembus, keluarga Pak Edi dan tetangga berlarian menuju ke tempat yang lebih tinggi. Kota Mataram tempat Pak Edi tinggal adalah kota yang berbatasan langsung dengan laut. Sepanjang jalan terlihat orang-orang berdesak-desakan menuju ke tempat yang lebih tinggi. Ada yang berjalan kaki sampai membawa sepeda motor. Mereka hanya mempunyai satu tujuan yaitu keselamatan diri, namun tsunami itu tidak pernah terjadi.

 

Tanggal 7 Agustus 2018, masih terjadi gempa susulan. Saat Pak Edi tinggal di pengungsian, beliau mendapat telepon dari kantor pusat Allianz Indonesia di Jakarta. Beliau diminta kesediaannya membantu belanja sejumlah barang yang dibutuhkan untuk didistribusikan kepada Yayasan Peduli Anak Indonesia (YPAI) yang terkena dampak gempa cukup parah.  Pak Edi adalah seorang karyawan Allianz Indonesia di kantor pemasaran mandiri di Kota Mataram, Lombok sejak 26 November 2016. Meskipun beliau bersetatus salah satu korban gempa, dengan izin keluarganya, pria kelahiran 22 Februari 1990 ini setuju untuk membantu proses pembelanjaan  barang-barang sampai penyaluran bantuan Allianz Indonesia untuk korban gempa di YPAI. Menjadi korban gempa tidak menjadi hambatan bagi pak Edi untuk membantu sesama. Walaupun ia sendiri merasakan kepedihan yang mendalam, setelah melihat wajah-wajah ketakutan anak-anak yatim piatu Yayasan YPAI, tempat tinggal, tempat belajar di YPAI yang hampir semua runtuh. Pak Edi menyimpan dalam-dalam kesedihannya dan bangkit ikut membantu anak-anak di sana.

 

Tanggal 8 Agustus 2018, selama seharian penuh Pak Edi menyusuri Kota Mataram untuk mencari toko-toko perlengkapan yang masih buka, Beliau membeli berbagai perlengkapan seperti pakaian, kasur, peralatan masak, obat-obatan dan lainnya sesuai dengan daftar dan dana yang dikirim dari kantor pusat Allianz. Di saat beliau melakukan proses belanja, pukul 10.20 WITA terjadi gempa susulan yang cukup besar sehingga membuat seluruh pengunjung pasar swalayan itu berhamburan keluar gedung. Begitu pula dengan  Pak Edi yang sedang membawa barang-barang berat perlengkapan bantuan gempa. Namun peristiwa itu tidak menciutkan niat Pak Edi untuk menyelesaikan proses belanjanya. Setelah mendapat kepastian aman dari petugas keamanan gedung swalayan, Pak Edi melanjutakan belanja.

 

9 Agustus 2018, Perwakilan Allianz dan Yayasan Allianz Peduli, Jakarta telah tiba di Lombok. Pieter van Zyl Presiden Direktur PT Asuransi Allianz Utama Indonesia bersama rombongan langsung menuju kantor Allianz di Mataram. Disana Pak Edi, Pak Pieter,  bahu membahu mengangkat barang-barang ke dalam mobil kontainer besar yang sebelumnya dipesan oleh Pak Edi. Pak Agus dan Pak Arye yang sejak awal bersemangat menemani Pak Edi ikut membantu proses penyaluran sampai semua bantuan tiba di YPAI.

Menjelang sore sejumlah bantuan dan rombongan dari Allianz tiba di lokasi. Anak-anak yayasan menyambut mereka dengan gembira. Terbayar lunas sudah jerih payah Pak Edi melihat senyum anak-anak YPAI. Seperti telah dihapus semua resah yang beberapa hari ini mendekam di hati Pak Edi. Keikhlasan dan pengorbanan itu kini menjelma menjadi rasa syukur dan kebahagiaan yang tidak bisa di gambarkan. Walaupun dibayang-bayangi gempa susulan yang belum juga berakhir, setidaknya senyum-senyum kecil sempat terlihat di wajah para korban gempa. Pak Pieter sempat merasakan gempa susulan yang lumayan besar saat beliau dan rombongan beristirahat di restoran lalu melanjutkan kunjungan ke tempat pengungsian lainnya.

 

Foto: Pak Wayan Edi, relawan dari Mataram saat Gempa Lombok

Bagi Pak Edi, berbagi adalah tentang keikhlasan kita menjalani hidup. Beliau yakin sudah bekerja di tempat yang tepat, yaitu perusahaan yang memiliki kepedulian sesama seperti yang di pegang teguh oleh Pak Edi. “Karma Phala” beliau mengutip dari kitab suci Agama Hindu yang ia anut yang berarti siapa yang menanam kebaikan akan menghasilkan kebaikan pula. Entah dari mana balasan kebaikan itu akan datang, namun sebagai manusia kita terus berusaha berbuat baik. Biarkan sang pencipta sendiri yang menentukan tempat terbaik kita kelak.

Foto: Pak Agus dan Pak Arye yang membantu Pak Wayan Edi dalam distribusi bantuan untuk korban gempa Lombok